Jumat, 30 Maret 2012

Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Indonesia


Bisa dibilang tulisan ini sebagai hasil resume kami mengenai tembakau Srintil yang bersumber dari internet. Bermula dari rasa penasaran kami akan tembakau yang harga perkilonya mencapai ratusan ribu bahkan bisa sejuta. Maka dari itulah kami mencoba menghimpun informasi mengenai tembakau asli Temanggung yang berkelas nan elit ini.

Mengapa dinamakan Srintil? Istilah ndeso dan khas Jawa ini sebenarnya mengacu dari bentuknya yang mringkil-mringkil, kecil-kecil dan tak beraturan. Tembakau Srintil dianggap juga sebagai Palung Setan. Pulung Setan yang berasal dari kata “Pulung” yang berarti keberuntungan dan “Setan” dimaknai dari kata Seto atau putih. Tembakau Srintil merupakan keajaiban, anugerah dari Allah yang siapapun tidak bisa menduga siapa yang akan beruntung tembakaunya menjadi Srintil. Srintil disebut juga sebagai “tembakau lauk”, karena hanya dipakai sebagai campuran pada racikan kretek.

Selanjutnya kita bicarakan ciri-ciri tembakau Srintil, antara lain:

  • Tembakau srintil dihasilkan dari daun paling atas pada tanaman tembakau. Biasanya dipetik paling akhir. Sewaktu masih di pohon, tak ada yang bisa mengetahui lembaran daun itu akan menjadi srintil.
  • Mempunyai aroma khas yang menggoda, harumnya mirip aroma buah salak. Aroma khasnya akan mudah tercium walau dari jarak beberapa meter. Hal ini wajar, karena Srintil disimpan lumayan lama dalam gudang.
  • Daunnya berbentuk melengkung hampir keriting, dan susah dirajang. Agak lembab, tetapi tidak basah. Warnanya hitam pekat seperti habis disiram madu.
  • Kadar nikotinnya tinggi, berkisar di angka 3-8%, prosentase yang cukup tinggi untuk sebuah tembakau. Inilah alasan Srintil menjadi incaran pemburu tembakau berkelas.
  • Ada juga tembakau Srintil yang asoran (rendahan). Ciri tembakau srintil asoran berbau wangi, ada guratan keemasaan halus dan warnanya telah hitam sebagai pertanda kandungan nikotin tinggi.
  • Saat diperam 2-3 hari sudah busuk, sedangkan tembakau lain membutuhkan waktu lebih. Daun yang sudah layu, ada jamur berwarna kuning, berbau tajam seperti madu dan mengeluarkan cairan menjadi indikator terbentukya tembakau Srintil.
Untuk budidayanya sendiri, belum kami temukan peneliti yang bisa memaparkan secara kompleks asal muasal terbentuknya tembakau Srintil. Namun, sudah ada beberapa indikasi yang kami temukan, diantaranya:

  • Letak geografis adalah faktor pendukung utama. Sejauh ini, fenomena Srintil hanya ada di sisi utara Gunung Sindoro dan Sumbing. Ketinggian daerah tersebut berada pada ketinggian 1800mdpl. ketinggian tempat akan berpengaruh pada faktor lingkungan, seperti; suhu, kelembapan, intensitas cahaya, cuaca, dan lain sebagainya.
  • Hanya jenis Tembakau (NICOTINA TABACUM) varietas Kemloko yang bisa menjadi Srintil.
  • Untuk pupuk, sebetulnya tembakau jenis ini tergolong agak manja. Pupuk yang digunakan haruslah pupuk kandang. Dengan itu, nantinya pada permukaan daunnya akan terlihat pembengkakan yang berisi cairan.
  • Adapun media tanah yang mempengaruhi kemunculan tembakau Srintil biasanya dari jenis tanah lincat yang teksturnya menyerupai tanah liat. Jenis tanah ini kerap menghasilkan Srintil kualitas bagus. Karena itu, hampir setiap hari dari Februari sampai September, petani Temanggung rajin menengok kabut, atau “pedut”, atau istilah orang sana “lamuk”, yang dibutuhkan untukmemayungi tanaman agar tidak langsung terbakar sinar matahari.
  • Kemunculan Srinthil dideteksi ada sejenis jamur yang tumbuh saat daun tembakau belum dirajang. Jamur ini yang membuat kualitas tembakau menjadi bagus. Kualitas Srinthil baru akan muncul setelah daun tembakau dimatangkan selama 3 hari. Bakal kelihatan jamur kekuningan dan biasanya saat tembakau dalam kondisi seperti ini petani menyimpannya kembali selama 7-8 malam sebelum dirajang.
  •  Kualitasnya juga tergantung pada proses pemeraman. Jika proses ini berhasil, maka daun akan terfermentasi oleh jamur sehingga daun menjadi lunak. Jika dirajang daunnya tidak tipis-tipis seperti kebanyakan. Ia mudah hancur, menggumpal, dan mengeluarkan minyak.

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan besar kami – tentunya juga petani tembakau se-Indonesia - adalah, apakah tembakau Srintil bisa diusahakan untuk muncul di daerah lainnya? Dan kalau bisa, bagaimana caranya? Kami sangat berharap akan segera datang kabar bahagia dari para akademisi pertanian dan kementerian pertanian terkait kemungkinan tersebut. InshaAllah dengan tembakau Srintil ini, kami para petani akan lebih sejahtera, dan lebih semangat berbetah ria “ngantor” di sawah ladang kami.
[OrengSendet, 30 Maret 2012]

Sumber rujukan kami:

0 comments:

Poskan Komentar